Menengok Keunikan Budaya Spanyol dalam Festival Melompati Bayi

19 Juni 2017
|Monica Petra
101SHARES

Setiap negara tentu memiliki sesuatu keunikan masing-masing dari budayanya. Seperti Indonesia yang beraneka ragam suka bangsa, membuatnya kaya dengan budaya. Ada ngaben di Bali, ada sekaten di Jawa, serta ritual pernikahan atau kematian dari setiap suku lainnya. Nah, ternyata salah satu negara di Eropa juga memiliki tradisi unik. Kali ini, kita akan bahas Spanyol.

Sekali dalam setahun di pertengahan Juni, menurut kepercayaan masyarakat setempat, setan berjalan liar di desa Spanyol Castrillo de Murcia. Campuran ritual Katolik dan pagan dimaksudkan untuk mewakili kemenangan kebaikan atas kejahatan, festival melompati bayi ini dinamakan El Colacho dan dimulai pada tahun 1620-an dan berlangsung pada hari Minggu setelah Pesta Corpus Christi. Asal-usulnya tidak jelas, namun beberapa sejarawan percaya bahwa hal itu mungkin telah dimulai sebagai ritual kesuburan.

 

Selama festival, setan "bertopi merah dan kuning" berlari melewati jalan-jalan melemparkan penghinaan pada penduduk desa dan mencambuk mereka dengan ekor kuda yang menempel pada tongkat. Pukulan drum mengumumkan kedatangan orang-orang yang berpakaian hitam, orang-orang saleh yang telah datang untuk mengusir kejahatan, sementara orang-orang berkostum kuning yang dianggap sebagai setan mengejar anak-anak yang ada di sekitar situ.

Nah, lalu bayi yang lahir pada tahun sebelumnya diletakkan di atas kasur di jalan sementara pria berkostum melompat di atas mereka. Pembaptisan diyakini bahwa iblis menyerap dosa-dosa bayi, dan memberi mereka perlindungan dari penyakit dan kemalangan. Ini merupakan ritual pembersihan bayi dari dosa asal mereka. Penonton yang berjajar di jalanan juga akan mencaci Colacho untuk menangkal nasib buruk mereka sendiri untuk tahun depan. Setelah itu, bayi-bayi itu ditaburi kelopak mawar dan segera direklamasi oleh orang tua mereka.

Biasanya festival El Colacho ini hanya mencakup bayi dari desa setempat, namun dalam beberapa tahun terakhir orang-orang dari seluruh dunia telah melakukan perjalanan ke utara Spanyol untuk berpartisipasi. Sampai saat ini belum ada laporan tentang luka-luka, namun praktik tersebut tetap menjadi bahan perdebatan di dalam Gereja Katolik.

Kita sebagai warga negara Indonesia dengan beragam budaya tentunya bisa menyikapi festival ini dengan bijak. Terkadang tidak semua budaya bisa dicampuradukkan dengan agama. Begitu pun juga politik, tidak bisa dicampuradukkan dengan agama. Apa pun makna dari festival ini sekiranya masih baik dan relevan tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Kalau menurut kamu bagaimana? Indonesia sendiri juga memiliki banyak festival atau budaya yang justru masih tersangkut-paut dengan hal-hal gaib, seperti kuda lumping. Selamat menikmati keberagaman budaya dunia.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Monica Petra
Gak Punya Quote Nih!
101SHARES