Lebih Buruk dari Kamar Gas, Praktik Kanibalisme di Dalam Kamp Konsentrasi Nazi Terungkap

www.thedailybeast.com

Manusia memang kadang sering dipaksa untuk melakukan hal-hal ekstrem ketika terhimpit dalam suasana di luar batas. Kadang dalam keadaan tersebut sulit sekali untuk membedakan mana yang salah dan mana yang betul. Insting sebagai manusialah yang mendominasi alam pikiran pada saat itu. Hal yang terpenting adalah dapat bertahan hidup dan itulah yang menjadi poin utama dalam kehidupan.

Contohnya saja saat suatu negara sedang dijajah, beberapa kaum minoritas ditangkap dan dimasukkan ke beberapa kamp-kamp konsentrasi yang kejam. Makanan dan minuman menjadi sangat terbatas. Apalagi pada saat itu cuaca sedang menunjukkan titik dinginnya. Asupan makanan yang hangat dan bergizi saat itu dianggap sebagai hadiah dari surga yang tentunya sangat mustahil untuk didapatkan.

www.theatlantic.com

Hal tersebutlah yang dirasakan oleh tiap-tiapa tawanan NAZI di kamp-kamp konsentrasi yang tersebar di beberapa dataran Eropa. Jangankan untuk bersosialisasi dengan para sesama tawanan, untuk melupakan perut yang lapar dan dinginnya cuaca saja rasanya hampir mustahil. Belum lagi tekanan yang timbul akibat banyaknya tawanan yang mati satu persatu setiap harinya. Entah itu meninggal karena kelaparan, kedinginan, penyakit typus, maupun pembunuhan massal di kamar gas. Begitulah NAZI. 

www.intellectualtakeout.org

Korban Holocaust di era Perang Dunia II ini diperkirakan mencapai 9-11 juta jiwa. Enam juta di antaranya merupakan kaum Yahudi. Sisanya berasal dari golongan yang tidak disukai NAZI, seperti bangsa Rusia, Polandia, Slavia, penganut Katolik Roma, orang cacat fisik dan mental, para homoseksual, komunis, orang-orang Gipsi, serta para saksi Yehuwa. 

www.bfi.org.uk

Dilansir dari nationalgeographic.co.id, ada sebuah pengakuan mencengangkan dari Harold Le Druillenec, satu-satunya orang Inggris yang selamat dari kamp konsentrasi Bergen-Belsen mengenai praktik kanibalisme yang terjadi di sana. Kamp Bergen-Belsen awalnya diperuntukkan sebagai kamp tahanan perang, namun dialihfungsikan menjadi kamp konsentrasi pada tahun 1943. Sebanyak kurang lebih 70.000 tawanan meninggal di kamp tersebut sepanjang tahun 1941-1945. 

beritabandung.com

Harold mengungkapkan bahwa di kamp konsentrasi Bergen-Belsen tidak terdapat makanan dan air, sedangkan tidur menjadi salah satu hal yang mustahil. Selama menjadi tawanan di kamp tersebut, seluruh waktu Harold digunakan untuk mengangkat para mayat ke kuburan massal yang digali untuk para tawanan. Sementara itu, hukum rimba memang terjadi di sini bagi para tawanan. Setiap malam hari hanya ada dua pilihan: membunuh atau dibunuh. Praktik kanibalisme semakin hari semakin menjadi.

www.annefrank.org

Kemudian Harold akhirnya dibebaskan setelah menjadi tawanan selama sepuluh bulan. Badannya menyusut. Ia menghabiskan sekitar setahun untuk memulihkan dirinya dari kudis, disentri, malnutrisi, dan septikemia yang selama ini ia derita.

www.annefrank.org

Praktik kanibalisme tersebut mungkin saja terjadi hampir di setiap kamp konsentrasi NAZI yang ada di beberapa negara jajahannya. Rasanya para tawanan itu tidak memiliki pilihan lain selain memakan atau dimakan demi bertahan hidup. Kondisi psikologis mereka memang sudah terganggu sejak kedatangannya di tiap kamp konsentrasi. Jangankan untuk tidur, berpikir jernih saja rasanya hampir mustahil. 

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
SHARES
Inilah Beberapa Merek Industri Raksasa Jerman yang Bertuankan Hitler dan Nazi

Inilah Beberapa Merek Industri Raksasa Jerman yang Bertuankan Hitler dan Nazi

Federica Mogherini, Diplomat Uni Eropa yang Cantiknya Bikin Anggota Parlemen Iran Jadi Norak!

Federica Mogherini, Diplomat Uni Eropa yang Cantiknya Bikin Anggota Parlemen Iran Jadi Norak!

Pasar Pengantin, Ajang Cari Jodoh Orang-orang Kalaidzhi di Bulgaria

Pasar Pengantin, Ajang Cari Jodoh Orang-orang Kalaidzhi di Bulgaria

7 Hukum dari Negara ini Bakal Bikin Kamu Kaget Saking Anehnya!

7 Hukum dari Negara ini Bakal Bikin Kamu Kaget Saking Anehnya!

Walau Islamofobia Merebak, 7 Kota di Eropa ini Tetap Ramah Muslim, Lho!

Walau Islamofobia Merebak, 7 Kota di Eropa ini Tetap Ramah Muslim, Lho!

Beri Dukungan Kekeringan yang Melanda Roma, Vatikan Matikan 100 Air Mancur

Beri Dukungan Kekeringan yang Melanda Roma, Vatikan Matikan 100 Air Mancur

loading