Tinggal di Tengah Jalan Selama 14 Tahun, Keluarga Ini Bikin Pusing Pemerintah Cina!

22 September 2017
|Romlah Sundari

Terkadang dalam hidup memang dibutuhkan pendirian yang teguh dan sikap keras kepala untuk mempertahankan pendirian tersebut. Saat lingkungan kita mulai bergerak ke arah yang tidak baik, sikap keras kepala untuk berpegang pada prinsip dan menolak pengaruh-pengaruh buruk memang diperlukan. Seperti halnya yang dilakukan oleh para pemeluk agama Sunda Wiwitan yang melawan dan bersikap "keras kepala" untuk mempertahankan tanah adatnya. Atau petani-petani di Pegunungan Kendeng yang melawan dan menolak pendirian serta penambangan semen di lahannya. Petani-petani ini percaya bahwa aktivitas penambangan tersebut dapat merusak bumi dan ibu bumi menurut kepercayaan mereka merupakan sesuatu yang harus dijaga kelestariannya. Aksi "ngeyel" Petani Kendeng ini meski membuat pusing pemerintah, namun memang perlu dilakukan untuk menekan aksi eksploitasi terhadap alam dan menyadarkan masyarakat luas mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam.

Namun, terkadang sikap keras kepala ini juga menjadi terlalu jauh dan malah justru jadi tidak masuk akal. Seperti yang terjadi di Cina ini, terdapat satu keluarga yang harus tinggal di tengah jalan karena menolak untuk direlokasi oleh pemerintah Cina. Keluarga Xu memang sudah sejak lama tinggal di Jiuliting, Distrik Songjiang, Shanghai. Awalnya, jalanan di area tersebut merupakan jalanan tanah sempit yang rawan banjir saat hujan. Pemerintah bermaksud memperbaiki kondisi tersebut dengan mengubahnya menjadi jalan raya dan memperluasnya hingga terdapat empat lajur jalan. Pembangunan ini tentu saja membuat warga-warga yang tinggal di area tersebut harus direlokasi karena rumahnya harus digusur demi digantikan dengan ruas jalan. Semua warga di area tersebut setuju dan menerima kompensasi dari pemerintah. Namun, berbeda halnya dengan keluarga Xu yang memilih untuk menetap lantaran menganggap kompensasi yang ditawarkan oleh pemerintah tidak sepadan.

Awalnya, Zhang dan ayah mertuanya sudah setuju untuk pindah dari rumah tersebut dengan kompensasi berupa sebuah villa dan sejumlah uang. Namun, anak Zhang yang bernama Xu Jun memberikan ide untuk meminta kompensasi berupa enam apartemen yang dapat menampung seluruh anggota keluarga yang selama ini tinggal di rumah tersebut. Pemerintah tidak dapat menyanggupi permintaan ini dan hanya mau memberikan empat apartemen. 

Negosiasi antara keluarga Xu dan pemerintah berlangsung alot dari tahun 2011 hingga sempat terhenti cukup lama. Menurut keluarga Xu, pemerintah tampak melupakan permintaan mereka untuk merelokasi rumah mereka. Hingga ketika pemerintah kembali berupaya melakukan negosiasi ulang dengan keluarga Xu, akhirnya keluarga ini bersedia melepaskan rumahnya dengan kompensasi berupa empat unit apartemen dan uang sebesar 2,3 juta yuan.

Kesediaan keluarga Xu untuk pindah disebabkan mereka tersentuh akan upaya pemerintah yang terus berusaha agar tercapai kesepakatan. Selain itu, hidup di tengah-tengah jalan raya besar selama 14 tahun bukanlah pengalaman yang menyenangkan bagi mereka. Bising suara jalan dan keamanan mereka yang terancam menjadi salah satu alasan mengapa keluarga ini lantas setuju untuk pindah. Dalam 14 tahun yang dihabiskan hidup di tengah jalan tersebut, keluarga ini telah menjadi saksi dari tiga kecelakaan kendaraan yang mengerikan.

Pada 18 September kemarin, rumah ini akhirnya berhasil dirobohkan setelah keluarga Xu menyelesaikan kepindahannya pada tanggal 15 September. Rumah yang telah dipertahankan selama 14 tahun ini akhirnya berhasil diruntuhkan hanya dalam durasi waktu yang singkat, yaitu 90 menit saja. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, sikap "keras kepala" dan bertahan pada pendirian memang sikap yang terkadang diperlukan. Namun, dalam kasus keluarga Xu ini, sikap "ngeyel" mereka sebenarnya justru merugikan diri mereka sendiri karena hidup di tengah jalan tentu saja bukan hanya tidak menyenangkan, tapi juga dapat berdampak pada tingkat stres dan kesehatan mereka. Oleh karena itu, sikap keras kepala pun tetap harus pada tempatnya serta sesuai dengan konteks dan situasi yang sedang berlangsung.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Romlah Sundari
Gak Punya Quote Nih!
SHARES