Suku Mosuo, Suku Matriarkat di Tiongkok yang Memungkinkan Perempuannya Punya Banyak Pasangan

09 November 2017
|Atik Kencana S.
Asia
0SHARES

Di dunia terutama di Indonesia, sistem patriarki memang lebih banyak digunakan, sedangkan hanya segelintir suku atau sistem matriarkat yang digunakan. Sistem patriarki merupakan suatu sistem sosial yang menempatkan posisi laki-laki sebagai pengendali kekuasaan dan dominasi, baik dalam segi politik, moral, dan juga hak sosial. Sebaliknya, matriarkat menjadikan sosok perempuan atau ibu sebagai pengendali kekuasaan.

Di belahan dunia lain, terdapat sebuah suku yang masih menggunakan sistem matriarkat dan malah cenderung memiliki anomali dalam budaya seks yang begitu ekstrem. Adalah suku Mosuo yang bermukim di Provinsi Yunnan, Sinchuan, Tiongkok. Pada kenyataannya, suku ini dianggap berbeda dengan suku yang lain akibat sistem matriarkatnya.

Masyarakat suku Mosuo hidup mengasingkan diri dengan yang lainnya di kawasan Danau Lugu, sekitar 2.700 meter di atas permukaan laut. Kawasan tempat mereka tinggal ini dikenal cukup terpencil karena dikelilingi hutan dan pegunungan. Suku ini beranggotakan sebanyak 40.000 orang. Suku ini juga menerapkan sistem yang agak nyentrik, yakni perempuan suku ini ditempatkan sebagai pemegang kekuasaan dan kendali. Bukan hanya soal pekerjaan, namun juga dalam hal aktivitas seksnya.

Bagi tiap perempuan di suku ini, semenjak beranjak dewasa, mereka sudah melakukan berbagai pekerjaan rumah, seperti membersihkan rumah, memasak, membuat kain tenun, bertani, hingga mengurus peternakan. Sebaliknya, kaum pria di suku ini tak banyak dituntut untuk mencari mata pencaharian. Kaum pria di suku Mosuo ini kebanyakan menghabiskan waktunya hanya untuk bersantai sepanjang hari.

Sejak zaman dahulu kala, suku Mosuo tidak mengenal adanya ikatan pernikahan. Setiap perempuan tidak hidup bersama suami, melainkan bersama keluarga sepanjang hidupnya. Selain itu, tiap perempuan di suku ini memiliki kamar pribadi yang bisa ia gunakan untuk aktivitas seksnya bersama setiap pria yang diinginkannya.

Uniknya, seorang perempuan di suku ini akan dianggap telah dewasa ketika sudah menginjak usia tiga belas tahun. Pada saat itu, akan pula dilakukan serangkaian ritual istimewa di mana sang gadis diberikan beragam pakaian indah dan dirias secantik mungkin. Perempuan tersebut juga akan dipakaikan ragam perhiasan dan pakaian tradisional. Upacara ini merupakan simbolisasi kedewasaan seorang gadis. Di saat inilah ia boleh memiliki seorang kekasih yang bisa mengunjungi kamarnya setiap malam. Pada usia tersebut, sang perempuan memiliki hak lebih terhadap pria yang diinginkannya tanpa adanya batasan moral. Umumnya, saat upacara kedewasaan tersebut, sang gadis akan membisikkan nama pria yang akan diajaknya untuk menghabiskan malam bersama.

Lebih dari itu, para perempuan dewasa suku Mosuo ini berhak untuk bermalam dengan laki-laki mana pun, namun hanya semalam karena besoknya mereka harus keluar dari kamar tersebut. Perempuan suku ini juga bebas menentukan jangka waktu hubungan tersebut, baik semalam, seminggu, sebulan, atau setahun. Apabila sang perempuan sudah bosan dengan laki-laki tersebut, ia akan memberikan sebuah kode dengan meletakkan sepatu di depan pintu kamarnya.

Nah, jika seorang perempuan suku Mosuo hamil, maka anak yang lahir akan mendapatkan hak pengasuhan dan nama keluarga dari pihak ibu. Si anak tersebut tidak dapat diperkenalkan pada ayahnya sampai akil baliq.

Kini, lokasi tempat tingga suku Mosuo semakin banyak dikunjungi oleh turis asing untuk berwisata. Namun mirisnya, kebudayaan yang dimiliki oleh suku Mosuo ini banyak disalahgunakan oleh para turis yang ingin mencicipi rasanya berhubungan seks dengan para perempuan Mosuo


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
0SHARES