Punya Indeks Kebahagiaan Nasional, Apakah Bhutan Benar-Benar Negara Bahagia? Faktanya Miris!

23 Januari 2018
|Anggar Shandy
0SHARES

Beragam cara untuk mengukur kesejahteraan suatu negara. Mulai dari dengan mengukur Produk Domestik Bruto, pertumbuhan ekonomi hingga indeks pembangunan manusianya. Namun ada yang menarik dengan Bhutan. Bhutan merupakan negara kecil yang terletak di sebelah timur pegunungan Himalaya. Negara yang tidak pernah dijajah sepanjang sejarahnya ini mengaku sebagai negara bahagia dan memiliki indeks kebahagiaan nasionalnya sendiri.

Bentuk sistem pemerintahan Bhutan adalah monarki. Baru pada tahun 2008 lalu, Bhutan mengubah bentuk pemerintahannya dari monarki absolut menjadi monarki konstitusional. Negara ini baru memperbolehkan TV dan internet masuk ke negaranya pada tahun 1999. Bhutan dipimpin oleh seorang Druk Gyalpo atau yang berarti Raja Naga atau Raja Bhutan. Raja Bhutan saat ini bernama Jigme Khesar Namgyel Wangchuck. Ia adalah Druk Gyalpo yang ke 5 yang memimpin Bhutan sejak Desember 2006.

Bhutan merupakan negara pertama di dunia yang mengukur kesejahteraan warganya dengan indeks kebahagiaan nasional. Indeks ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970’an oleh Raja Bhutan saat itu Jigme Singye Wangchuck, yang merupakan ayah dari Raja Bhutan saat ini. Tepatnya ketika sang raja melakukan konferensi pers di bandara Mumbai, India. Saat itu ia mengatakan bahwa Bhutan tidak percaya dengan Produk Domestik Bruto, Indeks kebahagiaan nasional merupakan hal yang lebih penting. Dan mereka bertekad untuk menjadi negara bahagia.

Prinsip utama dari indeks kebahagiaan nasional adalah pembangunan sosio-ekonomi yang berkelanjutan, kelestarian lingkungan, kelestarian dan promosi budaya serta tata kelola pemerintahan yang baik. Menariknya, indeks kebahagiaan nasional Bhutan menekankan pada harmoni dengan alam dan nilai-nilai tradisional.

Implementasi dari kebijakan indeks kebahagiaan nasional Bhutan dilakukan secara bertahap selama beberapa dekade. Pengukuran indeks kebahagiaan nasional di Bhutan pertama kali dilakukan pada tahun 2010 oleh Pusat Studi Bhutan. Pada survey yang dilakukan di negara bahagia ini pada tahun 2015, Pusat Studi Bhutan setidaknya mencatat 91,2% penduduk Bhutan merasa sangat bahagia. Hal tersebut meningkat 1,8% dari survey sebelumnya di tahun 2010.

Penduduk kota dan berpendidikan tinggi cenderung lebih bahagia dibanding mereka yang tinggal di pedesaan. Sementara berdasarkan jenis kelamin, pria tercatat lebih bahagia dibanding perempuan. Bisa dikatakan indeks kebahagiaan nasional Bhutan merupakan laporan yang bersifat subjektif alih-alih objektif. Sebab jika dilihat dari perekonomiannya, Bhutan merupakan salah satu negara dengan hutang paling tinggi di dunia. Sementara menurut laporan kebahagiaan yang dirilis tiap tahun oleh PBB, Bhutan berada di posisi 84 dari 157 negara. Bahkan masih berada di bawah peringkat Indonesia.

Laporan tahunan kebahagiaan menurut versi PBB didasarkan pada pendapatan per kapita, tunjangan sosial, angka harapan hidup, kebebasan untuk menentukan pilihan hidup, kedermawanan dan tingkat korupsi. Jika mengacu laporan tahunan PBB tersebut, bisa dikatakan bahwa warga negara Bhutan jauh dari predikat negara bahagia di dunia seperti yang sering diklaim oleh pemerintah negara bahagia tersebut. Selain itu, beberapa pihak juga mengklaim bahwa indeks kebahagiaan nasional Bhutan hanyalah propaganda kerajaan untuk menutup-nutupi genosida, diskriminasi, tidak dijaminnya kebebasan pers dan kebebasan bersekspresi serta pelanggaran HAM yang terjadi di negara 'bahagia' tersebut. 

Memang mengukur kebahagiaan bukanlah perkara mudah. Apakah orang yang hidup di negara yang otoriter cenderung lebih tidak bahagia dibanding mereka yang hidup di negara yang demokratis? Jawabannya bisa jadi belum tentu. Karena terkadang manusia lebih bahagia saat berada dalam ketidaktahuannya. Sebab kebahagiaan itu memang bersifat subjektif. Namun faktor-faktor pendukung kebahagiaan biasanya bersifat objektif, bukan? Seperti kata-kata bijak, “uang memang tidak menjamin kebahagiaan, tapi tidak punya uang lebih tidak terjamin lagi kebahagiaannya."


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Anggar Shandy
"Ini quote, ojo ngeyel!"
0SHARES