Mengerikan, Museum Genosida Ini Menyimpan Sejarah Kelam Kamboja

06 Juli 2017
|Romlah Sundari
0SHARES

Bagi kamu yang menyukai traveling dan sejarah, museum pasti menjadi salah satu tujuan utamamu saat berwisata ke negara atau kota lain. Meski sering dianggap membosankan, namun museum sebenarnya merupakan atraksi pariwisata yang menarik. Museum menyimpan berbagai rekam jejak sejarah dan dapat memberimu banyak pelajaran dan pandangan baru akan hidup. Setelah kamu berwisata ke museum, kamu akan pulang dengan berbagai pengetahuan baru. Dan dengan pengetahuan baru, kerap muncul pemahaman baru akan hidup yang dapat mengubah caramu dalam menjalani kehidupan.

Salah satu museum yang wajib kamu kunjungi jika kamu menyukai sejarah, adalah museum genosida Tuol Sleng di Kota Phnom Penh, Kamboja. Seperti namanya, museum genosida ini merekam jejak pembunuhan besar-besaran yang terjadi di Kamboja di bawah pemerintahan Pol Pot dan tentara khmer rouge. Genosida di Kamboja ini terjadi selama empat tahun dari 1975 hingga 1979, namun korban jiwa yang jatuh mencapai angka jutaan. Hal ini terjadi pasca perang sipil di Kamboja yang dimenangkan oleh khmer rouge. Rezim ini menerapkan model pemerintahan sosialisme agraris yang ketat, diadaptasi dari model pemerintahan Mao Tse Tung di Cina dan Stalin di Rusia.

Model pemerintahan Pol Pot ini bersifat diktator dan represif. Ia membunuh semua yang dianggap sebagai ancaman politik. Mulai dari organisasi politik lawannya, hingga seseorang dengan etnis dan agama yang berbeda. Rezim khmer rouge menetapkan setidaknya 150 tempat eksekusi di seluruh Kamboja. Sekolah tinggi Chao Ponhea Yat adalah salah satunya. Gedung sekolah ini digunakan sebagai penjara dan tempat interogasi yang dinamakan Security Prison 21 atau S-21. Fasilitas ini setidaknya telah menampung 17 ribu orang selama empat tahun. Namun tidak hanya sekadar dipenjara, tahanan-tahanan politik ini juga disiksa dan dipaksa untuk menyebutkan nama-nama orang terdekat mereka yang terlibat dalam kegiatan politik atau memiliki potensi untuk menjadi ‘musuh negara’. Setelah mendapatkan nama-nama tersebut maka para tahanan ini akan dieksekusi mati dan nama-nama yang disebutkan akan mendapat giliran untuk ditangkap dan disiksa.

Setelah khmer rouge dijatuhkan dari tampuk kekuasaan oleh invasi Vietnam ke Kamboja, S-21 ditutup dan dijadikan museum genosida Tuol Sleng. Museum ini menyimpan foto-foto korban genosida dan menceritakan kisah mengerikan yang menimpa mereka. Namun tidak hanya itu, museum Tuol Sleng juga menyimpan berbagai alat penyiksaan dan mempertahankan bangunan yang digunakan sebagai sel tahanan agar tetap seperti aslinya. Hal paling mengerikan dari museum Tuol Sleng adalah fakta bahwa museum ini bahkan masih menyimpan ribuan tulang belulang korban genosida di Kamboja.

Museum Tuol Sleng menjadi bukti sejarah bahwa rasa takut dapat menyebabkan bencana kemanusiaan yang hebat. Selain menyimpan memori akan masa lalu kelam Kamboja, museum ini juga menjadi sarana edukasi bagi murid-murid di Kamboja. Mereka mempelajari sejarah kelam ini dan belajar dari sejarah tersebut agar hal yang sama tidak lagi terulang. Wisatawan mancanegara pun turut berdatangan ke museum ini untuk mengenang genosida yang pernah terjadi di Kamboja. Museum ini bahkan menjadi salah satu destinasi wisata wajib yang harus didatangi saat berkunjung ke Phnom Penh, Kamboja menurut berbagai situs pariwisata. Bukan karena keindahannya atau kehebatannya, museum ini menjadi tempat wisata yang menarik karena kemampuannya mengubah cara pandang  kita akan hidup. Suasana kelam dan menyeramkan di museum ini mengingatkan kita akan kehidupan yang begitu fana dan dapat berakhir sewaktu-waktu. Dan bahwa rasa takut serta kebencian adalah musuh terbesar bagi kemanusiaan.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Romlah Sundari
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES