Inilah Potret Derita Buruh Pabrik Mainan di Tiongkok, Pantas Aja Harga Mainannya Murah!

22 Agustus 2017
|Atik Kencana S.
2SHARES

Prinsip orang usaha memang harus menekan biaya produksi semaksimal mungkin. Para pengusaha harus cermat dalam menyiasati biaya produksi tersebut. Dengan biaya produksi seminimal mungkin harus mampu menghasilkan keuntungan semaksimal mungkin. Mungkin prinsip tersebutlah yang selalu ada di tiap-tiap pengusaha. Gak boleh munafik, tujuan usaha adalah untuk mendapatkan keuntungan, bukan untuk mendapatkan kerugian. Ya gak?

Sama saja seperti industri mainan di dunia yang sebagian besar merupakan produksi dari pabrikan asal Tiongkok. Gak bisa dipungkiri lagi kalau barang-barang yang berasal dari negara ini memiliki harga yang jauh lebih miring daripada pabrikan negara lain. Makanya, industri di Tiongkok, terutama di sektor mainan anak-anak berkembang pesat di sana.

Namun, ada hal yang begitu menyesakkan dada dalam industri mainan anak ini. Dengan begitu banyak mainan yang diproduksi tiap tahunnya untuk dikirim ke hampir seluruh negara di dunia, otomatis keuntungan perusahaan juga akan semakin tinggi. Namun, sayangnya hal tersebut tidak memengaruhi nasib para pekerja di sektor industri mainan tersebut.

Beberapa fakta miris dari para buruh mainan anak-anak di Tiongkok ini berhasil diabadikan oleh seorang fotografer, Michael Wolf, dengan tajuk “The Real Toy Story” seperti yang YuKepo rangkum dari laman dailymail.co.uk. Penasaran bagaimana mirisnya kehidupan mereka? Yuk, langsung aja kita kepoin!

1. Dengan tekanan kerja yang luar biasa, para buruh ini terpaksa tidur di pabrik akibat kerja long shift

2. Menurut laporan di tahun 2010, pendapatan rata-rata para buruh ini hanya sebesar Rp 2.250.000, itu pun sudah termasuk lembur

3. Sebanyak 75% mainan di seluruh dunia berasal dari Tiongkok. Kurang lebih terdapat 8.000 pabrik mainan dengan total 3,5 juta buruh di dalamnya

4. Menurut Pengawas Buruh Tiongkok, para buruh ini sering lembur sebanyak 36,5 jam perminggu. Akan tetapi, mereka hanya dibayar sebanyak 59% dari minimum gajinya

6. Laporan yang dirilis tahun 2009 menyatakan bahwa para buruh pabrik Tiongkok ini tidak mendapatkan jaminan keselamatan kerja

7. Mayoritas buruh ini merupakan perempuan berusia 18 - 25 tahun yang bekerja dari pukul 7:45 hingga 22:55 tiap harinya

8. Para buruh ini tidak dibolehkan untuk bicara atau mendengarkan musik selama jam kerja

9. Mereka juga dipaksa untuk makan makanan seadanya yang disediakan oleh pabrik. Bahkan, mereka tidak diperbolehkan untuk izin ke kamar mandi saat jam kerja

10. Di perusahaan sejenis ini, banyak yang mempekerjakan anak sekolah sebagai anak magang

Nah, dari rangkumam beberapa fakta mencengangkan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa industri raksasa di Tiongkok rupanya tidak selalu mendatangkan kesejahteraan di antara para buruhnya. Malah sebaliknya. Dengan harga jual yang murah berbanding lurus pula dengan upah buruh yang murah. Jauh sekali dari kesan sejahtera. 


Marah
Marah
50 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
50 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
2SHARES