HIV di Filipina Meningkat Sampai 140%, Ternyata Begini Kehidupan Seks di Sana!

06 September 2017
|Romlah Sundari
0SHARES

HIV merupakan salah satu virus paling mematikan yang pernah ada. Virus ini melemahkan sistem imun penderitanya dengan cara menyerang salah satu jenis sel darah putih, yaitu sel CD4+ yang berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh. Karena daya tahan tubuh yang melemah, sang penderita HIV menjadi rentan terkena berbagai komplikasi penyakit. Jika virus HIV dalam tubuh telah berhasil menekan kadar CD4+ dalam tubuh hingga begitu rendah, maka penderita HIV akan terkena AIDS atau kondisi di mana penderita tersebut terkena infeksi atau kanker yang jarang sekali muncul di tubuh mereka yang sehat. Karena daya tahan tubuh melemah, maka infeksi dan kanker ini menjadi fatal dan mematikan.

Sejak HIV ditemukan di Afrika, dunia secara konstan berupaya memerangi ancaman besar terhadap keberlangsungan hidup manusia ini. Mulai dari upaya-upaya para dokter dan peneliti untuk menemukan penawar bagi HIV hingga edukasi terkait seks terhadap masyarakat luas. Sayangnya, meski upaya internasional ini sudah berdampak baik dan berhasil menekan angka persebaran HIV di berbagai belahan dunia, ternyata di Filipina angka penderita HIV justru meningkat drastis hingga 140% dari tahun ke tahun dan tingkat persebaran HIV di Filipina ini merupakan yang tercepat di kawasan Asia Pasifik. Di bulan Mei 2017 saja tercatat telah muncul 1098 penderita HIV baru. Hal ini sungguh mengejutkan mengingat di tahun 2010, jumlah penderita HIV di Filipina hanyalah 4.300 jiwa.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Ternyata, salah satu penyebab tersebarnya HIV secara pesat di Filipina adalah karena kehidupan seks di Filipina yang cenderung bebas dan cukup kontroversial. Berikut Yukepo kumpulkan fakta-fakta terkait kehidupan seks di Filipina yang mengakibatkan tersebarnya HIV secara pesat disana. Yuk, simak!

1. Penyebaran HIV dapat terjadi melalui berbagai cara termasuk hubungan seks bebas tanpa proteksi

Sebenarnya, HIV dapat disebarkan melalui berbagai cara. Mulai dari pemakaian jarum suntik yang tidak steril, transfusi darah yang sudah terkontaminasi virus HIV, atau pertukaran cairan kelamin yang terjadi saat berhubungan seks. Tiga cairan tubuh yang dapat menjadi perantara penyebar HIV adalah darah, sperma, dan cairan vagina. Namun, mayoritas penderita HIV terkena akibat melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan seseorang yang telah terkontaminasi virus ini.

2. Menurut pihak berwenang di Filipina, sebanyak 83% kasus HIV terjadi karena hubungan seks sesama jenis

Genesis Samonte, kepala dari Departemen Pengawasan Kesehatan Masyarakat di Kementerian Kesehatan Filipina menyatakan bahwa 83% penderita HIV baru adalah laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan sesama jenis. Baik laki-laki tersebut merupakan pasangan gay maupun laki-laki transgender yang berhubungan seks dengan laki-laki lain.

3. Filipina memang dikenal sebagai negara di Asia yang ramah pada komunitas LGBTQ

Tidak mengherankan jika di Filipina terdapat banyak penderita HIV akibat hubungan seks sesama jenis karena Filipina memang dikenal sebagai negara yang ramah terhadap komunitas LGBTQ. Di antara negara-negara di Asia Tenggara, Filipina dikenal sebagai negara dengan toleransi yang tinggi terhadap mereka meski komunitas LGBTQ di Filipina, terutama mereka yang mengidentifikasi diri sebagai transgender, masih kerap mengalami tindakan diskriminatif atau bahkan tindak kekerasan hanya karena identitasnya sebagai LGBTQ.

4. Di samping komunitas LGBTQ yang marak, prostitusi pun merupakan industri yang cukup besar di Filipina

Meski 83% penderita baru HIV di Filipina disebabkan oleh hubungan seks sesama jenis, namun prostitusi juga merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan pesatnya persebaran HIV di Filipina. Selain Thailand, Filipina juga dikenal sebagai negara dengan industri pariwisata seks yang besar di Asia Tenggara. Di negara ini, terdapat berbagai kawasan lokalisasi yang begitu ramai dan dipadati oleh turis asing yang semata-mata datang ke Filipina untuk mencari hiburan berupa seks. Hal yang membuat prostitusi di Filipina jadi berbahaya adalah karena bukan hanya perempuan atau laki-laki dewasa yang bekerja sebagai PSK, tapi juga terdapat anak-anak di bawah umur dan transgender yang menjajakan tubuh di bar-bar di Filipina. Seperti yang telah kita ketahui di poin sebelumnya, hubungan seks antara laki-laki transgender dengan laki-laki lain menyebabkan kemunculan penderita HIV baru. Terlebih lagi jika kemudian laki-laki tersebut berhubungan seks dengan prostitusi lain dan semakin menyebarkan HIV di Filipina.

5. Bahkan, banyak anak-anak berdarah campuran yang merupakan dampak dari pariwisata seks turis asing di Filipina

Selain berdampak terhadap persebaran virus HIV di Filipina, prostitusi juga berdampak pada banyaknya kelahiran anak-anak berdarah campuran yang lantas harus tumbuh dalam kemiskinan dan tanpa sosok seorang ayah. Banyak PSK di Filipina yang setelah menghabiskan waktu bersama pelanggannya, lalu mendapati bahwa dirinya hamil. Beberapa pria yang menghamili PSK Filipina lalu memberikan uang bulanan untuk kehidupan anaknya, namun berhenti setelah beberapa lama. Beberapa lainnya bahkan tidak mengetahui bahwa ia memiliki anak di Filipina.

6. Industri seks di Filipina kabarnya telah menyerap 400 milyar dollar Amerika tiap tahunnya

Bagaimanapun, industri pariwisata seks di Filipina memang telah terbukti memberikan penghasilan yang cukup besar bagi pemerintah Filipina. Menurut data dari Al-Jazeera, industri ini telah menyumbangkan 400 milyar dollar Amerika setiap tahunnya bagi pendapatan pemerintah Filipina dan mayoritas pengunjung area lokalisasi Filipina adalah para turis asing yang berasal dari Australia. Meski menyumbang bagi pendapatan negara, namun prostitusi di Filipina memiliki berbagai dampak buruk, seperti perdagangan manusia, PSK di bawah umur, dan tentunya persebaran HIV yang begitu pesat.

7. Penyebaran HIV di Filipina masih dapat dihentikan jika pemerintah mengambil langkah tegas dan cepat

Sebenarnya peningkatan drastis angka penderita HIV di Filipina bukanlah sebuah vonis mati karena jika ditindak dengan cepat dan efektif, pemerintah dapat menekan laju persebaran virus HIV tersebut. Caranya adalah melalui edukasi terkait HIV dan perilaku seks yang aman kepada masyarakat luas. Selain itu, pemerintah perlu menggalakkan upaya pemeriksaan virus HIV di masyarakat. Pasalnya, virus HIV meski belum ada penawarnya, namun dapat diminimalisir dampaknya dengan berbagai metode pengobatan sehingga HIV tidak harus berkembang menjadi AIDS dan mematikan bagi penderitanya. 

Melihat fakta-fakta di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran terkait HIV dan kehidupan seks. Memang sebaiknya setiap orang yang sudah aktif secara seksual (terlebih bagi mereka yang berhubungan seks dengan lebih dari satu orang) seharusnya melakukan pemeriksaan HIV setiap tiga bulan sekali. Mereka juga dapat meminimalisir terkena HIV dengan cara mempraktikkan seks yang aman, yaitu dengan menggunakan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan. Yuk, lebih peduli terhadap kesehatan tubuh kita!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Romlah Sundari
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES