Harus Jadi Tertuduh Saat Majikan Buang Kentut, Inilah Pekerjaan Paling Absurd: Heoibikuni

29 April 2018
|Galih Wisnu Brata
57SHARES

Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki tradisi yang unik. Mulai dari upacara adat, pakaian, hingga pekerjaan. Hingga kini, banyak tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakatnya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, beberapa tradisi yang dinilai kurang pas mulai ditinggalkan. Salah satunya adalah pekerjaan yang bernama Heoibikuni.

Heoibikuni adalah pekerjaan yang sangat mudah untuk dilakukan. Tidak butuh ijazah, pengalaman, ataupun pelatihan. Segala usia juga bisa melakoninya. Yang paling penting untuk disiapkan oleh mereka yang berprofesi sebagai Heoibikuni adalah mental. Karena mereka harus siap dituduh atas apa yang tidak mereka lakukan. Terlebih, tuduhannya untuk hal yang tidak mengenakkan bahkan biasa dianggap memalukan.

Heoibikuni pekerjaannya adalah menjadi tertuduh atas kentut yang dikeluarkan oleh orang lain. Pekerjaan ini telah ada sejak zaman dahulu sekitar abad 16 dan dihentikan sejak tahun 1868. Kehidupan modern menjadi salah satu alasan dihentikannya pekerjaan ini di Jepang.

Pada masa itu, anak perempuan dan istri orang kaya gemar memamerkan harta kekayaannya. Kehormatan dan sikap sopan santun juga senantiasa mereka jaga. Mereka tidak akan menjatuhkan harga diri walaupun hanya dengan kesalahan kecil. Intinya, menjaga kehormatan adalah hal yang utama.

Untuk itu, banyak orang kaya yang menyewa jasa Heoibikuni. Mereka nggak akan mau terlihat malu saat di depan umum. Apalagi jika sampai kentut atau melakukan hal yang dianggap 'tidak pantas'. Kentut memang menjadi momok menakutkan di Jepang pada zaman itu.

Kebanyakan yang berprofesi sebagai Heoibikuni adalah seorang wanita. Selama seharian penuh, Heoibikuni harus menemani majikannya ke mana pun ia pergi. Derita Heoibikuni akan dimulai saat sang majikan merasa tak sanggup menahan gejolak di dalam perutnya. Kalau sudah terdengar bunyi hembusan atau malah lengkingan tinggi dan tiba-tiba aroma menyengat merebak, si nyonya akan menuduh Heoibikuni sebagai pelaku pembuang kentut.

 

Absurd banget ya? Para Heoibikuni memang terpaksa mempermalukan diri mereka sendiri demi memenuhi kebutuhan hidup. Tapi yang lebih absurd lagi adalah bagaimana mencoloknya perbedaan kedudukan tersebut. Bagaimana seorang bangsawan harus menjaga kehormatan dengan tidak melakukan perbuatan yang sejatinya adalah mekanisme alami tubuh, dan mengorbankan orang lain untuk menanggung apa yang telah ia perbuat. Padahal, bukankah kisah sejarah Jepang kuno penuh dengan kisah heroik yang bertanggung jawab? Hmm, absurd.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Galih Wisnu Brata
"memahami karena menjalani"
57SHARES