Begini Indahnya Kehidupan Suku Mosuo di Negeri Himalaya. Suku Matrilineal Terakhir di Dunia!

13 Desember 2017
|Lulu Lukyani
226SHARES

Apa sih yang terpikirkan kalau kalian dengar kata ‘Himalaya’? Gunung? Salju? Himalaya ternyata bukan cuma soal gunung dan salju, lho. Lebih dari itu, negeri Himalaya menyimpan segudang pesonanya. Mulai dari alam yang indah, hingga kebudayaannya yang unik nan eksotik. Salah satu yang jarang dibicarakan mengenai negeri Himalaya adalah keberadaan suku kuno yang masih bertahan hingga saat ini. Yup! Himalaya sampai saat ini masih mempunyai suku kuno yang bernama Suku Mosuo yang bertahan tinggal di lembah pegunungan Himalaya. Suku ini memiliki banyak sekali keunikan dan bahkan dianggap yang terakhir di dunia lho! Penasaran? Eits, sebelum jauh-jauh mengunjungi Himalaya, simak dulu yuk ulasan dari Tim Yukepo tentang Suku Mosuo!

Di tepi danau Luga yang luas dan subur, Suku Mosuo menetap dan bertahan hidup. Lebih tepatnya, suku ini tinggal di Provinsi Yunnan dan Sichuan di China yang berbatasan langsung dengan wilayah Tibet. Dilansir dari breaktime, jumlah anggota suku mereka saat ini sekitar 50.000 jiwa. Namun jumlah tersebut sampai saat ini terus menurun drastis. Suku ini menjadi unik tidak hanya karena keberadaannya sebagai suku kuno di tengah-tengah zaman yang modern, tetapi juga karena struktur sosial yang dianut Suku Mosuo ini begitu kompleks dan unik.

Orang-orang Mosuo menganut sistem matrilineal. Struktur sosial semi-matriarkal yang mereka anut dianggap sebagai sistem yang kompleks dan unik hingga didapuk sebagai sistem semi-matriarkal yang terakhir di dunia, lho! Dengan menganut sistem matrilineal, Suku Mosuo menjalankan kehidupan sosial bermasyarakatnya berdasarkan pada tradisi yang didominasi oleh kaum perempuan. 

Suku Mosuo sudah mempraktikkan sistem matrilineal ini sejak ratusan tahun yang lalu. Salah satu tradisi unik matrlineal khas Suku Mosuo adalah tisese. Tisese ini dikenal juga sebagai ‘pernikahan berjalan’. Ketika perempuan dan pria Suku Mosuo menginjak dewasa, mereka akan memilih pasangan masing-masing untuk ‘pernikahan berjalan’ ini. ‘Pernikahan berjalan’ ini dilakukan ketika salah satu pasangan berjalan ke rumah pasangannya di malam hari dan kembali ke rumah masing-masing di pagi hari. 

Dalam hubungan pernikahan, perempuan Suku Mosuo mempunyai hak untuk menceraikan suaminya jika dirasa tidak cocok atau timbul permasalahan. Uniknya, hal ini malah membuat kehidupan rumah tangga Suku Mosuo menjadi harmonis dan damai. Salah satu bukti nih, kalau perempuan gak harus selalu bergantung pada laki-laki dan berhak mengambil keputusan untuk kehidupannya sendiri. 

Selain itu, perempuan suku ini juga berperan besar dalam kehidupan di desa. Mereka pun melakukan kerja fisik di ladang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka. Pepatah kalau ‘perempuan itu makhluk yang lemah’ langsung terpatahkan deh nih sama perempuan-perempuan Suku Mosuo. Buktinya mereka bisa menjadi kepala keluarga dan mampu menghidupi seluruh keluarganya. Hebat banget kan? 

Sayangnya, anggota Suku Mosuo, terutama generasi muda, saat ini sudah banyak yang pindah ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan dan meninggalkan adat tradisi suku mereka. Suku ini kini didominasi oleh generasi tua sebagai penjaga kebudayaannya. Walaupun zaman udah semakin modern, semoga suku-suku kuno seperti Suku Mosuo ini tetap bisa bertahan ya. Kebudayaannya yang unik nan eksotik wajib banget dijaga sebagai warisan kebudayaan dunia!

 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Lulu Lukyani
Gak Punya Quote Nih!
226SHARES